Ekonomi

Korea Utara Dihantam Krisis Pangan dan Ekonomi

Korea Utara mungkin salah satu negara yang paling tertutup di dunia. Berbagai konfrontasi pun sering dilakukan negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un tersebut. Walau sudah banyak bukti apa yang terjadi dengan rakyat mereka, Korea Utara tetap mengklaim bahwa mereka adalah negara makmur. 

Tapi, nyatanya belakangan ini kanal berita dari seluruh dunia mengatakan bahwa Korea Utara tengah mengalami krisi pangan serta ekonomi. Padahal pernyataan dari mereka mengatakan bahwa seluruh rakyat makmur dan sejahtera. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi? Berikut ini adalah ulasannya. 

Penyebab Utama Korea Utara Mengalami Krisis Pangan 

Tentu saja masalah krisis pangan ini ada penyebabnya. Ada satu indikator yang menjelaskan mengapa ada kelangkaan pangan yang terjadi, yaitu terlihat dari harga bahan pokok yang naik dengan sangat tinggi. Dalam pantauan, pasar adalah salah satu tempat di mana warga Korea Utara mendapatkan bahan makanan dan kebutuhan lainnya. 

Tapi, nyatanya terjadi kelangkaan dan harga pangan menjadi lebih tinggi dari biasanya. Bahkan Korea Utara memberikan porsi-porsi bagi PNS dan pegawai pemerintah lainnya tapi jumlahnya terlalu sedikit. 

Ransum yang telah disediakan oleh negara tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan warga. Bahkan untuk area yang terpencil akan sulit sekali mendapatkan pangan yang disediakan. Maka dari sini jelas bahwa pasar memegang peranan penting untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka. 

Tapi, seluruh pertanian mengalami gagal panen karena cuaca ekstrem yang terjadi. Belum lagi sempat terjadi angin topan di semanjung Korea. Topan yang terjadi bahkan berlangsung selama dua minggu di bulan Agustus dan September. Di mana pada bulan-bulan tersebut adalah masa panen untuk jagung serta padi. 

Tidak hanya dari gagal panen saja, penyebab lain mengapa Korea Utara mengalami krisis ini adalah karena kesulitan akan jumlah pupuk yang disediakan. Seperti yang sudah diketahui, bahwa pupuk adalah peranan penting untuk bisa meningkatkan jumlah panen. 

Ada surat yang dikirimkan Kim Jong Un kepada salah satu pemimpin pertanian yang isinya adalah untuk mencari sumber alternatif untuk bisa memproduksi pupuk dalam jumlah besar. Kim Jong Un memerintahkan untuk menggunakan berbagai sumber dari kotoran hewan hingga manusia agar pupuk bisa diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pertanian. 

Dari surat tersebut dapat dilihat, bahwa Korea Utara tidak sanggup memenuhi kebutuhan mereka sendiri dalam produksi di sektor pertanian. Dari kanal berita Nikkei Asia mengatakan bahwa salah satu pabrik pupuk terbesar di negara tersebut terpaksa harus tutup karena tidak mendapatkan bahan baku yang cukup. 

Penutupan ini tidak lepas karena Korea Utara telah menutup perbatasan dengan mitra perdagangan mereka yaitu China di bulan Januari 2020 lalu yang disebabkan oleh Covid-19. Adanya penutupan inipun membuat negara tersebut sulit mendapatkan bantuan makanan dari luar.

Perkembangan Ekonomi Terparah Selama Dua Dekade 

Selanjutnya dari krisis ekonomi yang terjadi di negara tersebut. Bank Sentral Korea Selatan atau BOK sempat mengeluarkan beberapa data akan perkembangan ekonomi yang terjadi di Korea Utara. BOK menyatakan bahwa ekonomi yang ada di Korea Utara telah mengalami kontraksi paling dalam selama 23 tahun belakangan. Di mana gonjang ganjingnya sudah terjadi semenjak tahun 2020 lalu. 

Penyebab terjadinya krisis ekonomi yang saat ini terjadi di Korea Utara tidak lepas dari beberapa penyebab. Termasuk diantaranya adalah sanksi dari PBB yang hingga saat ini masih berlanjut. Serta adanya kebijakan lockdown agar dapat mencegah penyebaran virus Covid-19. Diperparah lagi dengan kondisi cuaca yang sangat buruk.

Tidak hanya itu saja, krisis ekonomi yang terjadi di Korea Utara pada saat ini adalah juga yang paling buruk semenjak bencana kelaparan di tahun 1990-an. Di mana pada saat itu, korban bencana mencapai 3 juta orang. 

BOK juga menyebutkan bahwa PDB dari Korea Utara telah kontraksi hingga 4,5% dalam periode 2020. Padahal di tahun 2019, pertumbuhan ekonomi di negara itu masih positif 0,4%. Data-data dari tahun ketahun yang dikumpulkan oleh BOK ini sendiri diperoleh dari Badan Intelijen negara Korea Selatan, agensi dari perdagangan asing serta pemerintah. 

Melihat apa yang sedang terjadi di Korea Utara saat ini menjadi salah satu kekhawatiran sendiri. Apalagi warga dari negara tersebut tidak bisa begitu saja keluar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ketimpangan sosial juga sangatlah terlihat, tapi sekali lagi Korea Utara selalu membantah seluruh bukti yang ada. 

Lebih menyedihkan lagi, karena krisis pangan ini anak-anak di Korea Utara diharuskan menonton film animasi yang menggambarkan bahaya obesitas. Hal ini sendiri dilakukan agar anak-anak bisa mengurangi makan mereka dan akhirnya krisis pangan bisa diatasi. Terlihat kejam? Tapi itulah yang sebenarnya terjadi di Korea Utara.